Jumat, 30 September 2016
makalah Makro Ekonomi Klasik dan Keynessian
TEORI EKONOMI KLASIK &
KEYNESSIAN
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Ekonomi Makro
Dosen Pembimbing : Nina Farliana, S.pd., M.pd
Disusun Oleh:
KHORIYAH / 2215041
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI SELAMAT SRI (STIESS)
2016
KATA PENGANTAR
Kami panjatkan Puji syukur kehadirat Allah SWT. Yang telah melimpahkan karunia-Nya Dan Hidayah-Nya yang telah membantu kami dalam pengerjaan Tugas Dalam penyusunan Makalah HAK ASASI MANUSIA (HAM). Dan kami berharap dalam penyusunan Tugas Makalah ini dapat menambah wawasan, pengetahuan dan semangat kembali untuk mempelajari dan mencintai Negara dengan cara belajar mengenal NegaraNya sendiri.
Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada:
1. Bapak Teguh Adi Prasojo Selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Selamat Sri (STIESS)
2. Orangtua saya yang selalu memberikan dukungan serta doa kepada kami
3. Teman-Teman yang tidak kurang-kurangnya memberikan motifasi untuk kami dalam pengerjaan Makalah Hak Asasi Manusia (HAM) ini.
4. Semua pihak yang membantu menyelesaikan penyusunan Makalah Hak Asasi Manusia (HAM) ini.
Walaupun kami menyadari segala keterbasan tentang pengetahuan Hak Asasi Manusia (HAM) dalam penyajin Makalah ini. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan Makalah Hak Asasi (HAM) ini, serta kurang atau lebihnya materi yang kami sampaikan. Semoga Makalah Hak Asasi Manusia (HAM) ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu Hak Asasi Manusi (HAM) yang berguna untuk masyarakat luas juga untuk lebih menghargai hak-hak dari masing-masing pribadi tanpa adanya penindasan sosial.
Kendal, Maret 2016
Penyusun
BAB I
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemikiran kaum klasik telah membawa perubahan besar dalam bidang ekonomi. Salah satu hasil pemikiran kaum klasik telah mempelopori pemikiran sistem perekonomian liberal. Dalam pemikiran kaum klasik bahwa perekonomian secara makro akan tumbuh dan berkembang apabila perekonomian diserahkan kepada pasar. Peran pemerintah terbatas kepada masalah penegakan hukum, menjaga keamanan dan pembangunan infrastruktur.
Peran pemerintah dalam pembangunan harus dibatasi dan berorientasi kepada pembangunan infrastruktur, kesehatan dan pendidikan. Campur tangan pemerintah yang berkelebihan dalam perencanaan pembangunan dikhawatirkan menimbulkan “Government Failure”, seperti birokrasi yang berkelebihan, KKN, dan lain sebagainya. Membatasi APBN dapat mengurangi defisit, karena akan menimbulkan ketidakstabilan di dalam ekonomi. Pemanfaatan kekuatan pasar yaitu mengembangkan pasar yang efisien, bebas dari monopoli, oligopoli, dan eksternal disekonomis. Oleh karena itu kebijakan pemerintah harus bersifat “Market Friendly”.
Beberapa tokoh ekonomi klasik seperti Adam Smith (1723-1790), Thomas Robert Malthus (1766-1834), Jean Baptiste Say (1767-1832), David Ricardo (1772-1823), Johan Heinrich von Thunen (1780-1850), Nassau William Senior (1790-1864), Friedrich von Herman, John Stuart Mill (1806-1873) dan John Elliot Cairnes (1824-1875) memperoleh kehormatan dari Karl Marx (1818-1883) atas keklasikan dalam mengetengahkan persoalan ekonomi yang dinilai tidak kunjung lapuk. Berbeda dengan kaum Merkantilis dan Physiokrat, kaum klasik memusatkan analisis ekonominya pada teori harga. Kaum klasik mencoba menyelesaikan persoalan ekonomi dengan jalan penelitian faktor permintaan dan penawaran yang menentukan harga.
Sebelum tahun 1930-an, aliran pemikiran liberal dari ekonom klasik mendominasi perekonomian global. Dalam aliran klasik mereka meyakini bahwa mekanisme laissez faire (bebas berusaha) dapat menciptakan kesejahteraan masyarakat secara otomatis dengan tercapainya tingkat kegiatan ekonomi nasional yang optimal (full employment ). Pada suatu saat tertentu GDP mungkin berada di bawah atau di atas tingkat full employment, tetapi kemudian akan segera kembali ke tingkat full employment secara otomatis. Sehingga intervensi pemerintah untuk mempengaruhi kegiatan ekonomi jangka pendek tidak diperlukan. Menurut mereka peran Pemerintah harus dibatasi seminimal mungkin, karena kinerja pihak swasta lebih efisien dari pada pemerintah.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang ada, maka dikemukakan perumusan masalah sebagai berikut :
1. Jelaskan apa saja dasar philosophy Ekonomi Klasik !
2. Jelaskan ruang lingkup Ekonomi Klasik dalam Pasar Barang, Pasar Uang juga tenaga kerja !
3. Apa itu Ekonomi Keynessian, variabel-variabel apa saja yang terdapat didalamnya?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui semua pandangan dari beberapa ahli mengenai ekonomi klasik
2. Untuk memahami ruang lingkup yang ada didalam Ekonomi Klasik
3. Untuk memahami apa itu Ekonomi Keynessian
4. Dapat memahami variabel apa saja yang terdapat pada Ekonomi Keynessian
BAB II
PEMBAHASAN
0.1 Dasar Philosophy Ekonomi Klasik
A. Dasar Filsafat Mazhab Klasik
Mazhab klasik yang dipelopori oleh Adam Smith (1732-1790) yang tercemin yang ditrbitkan tahun 1776 dengan judul An Inquary into the Natureand Cause of the Wealth of Nation, dianggap sebagai ibu dari kelahiran ilmu ekonomi.
Prinsip utama dalam mazhab Klasik adalah kepentingan pribadi (self interest) dan semangat individualism (laissez faire). Kepentingan pribadi merupakan kekuatan pendorong pertumbuhan ekonomi dan kekuatan untuk mengatur kesejahteraannya sendiri. Berdassarkan prinsip tersebut para penganut mazhab Klasik percaya bahwa sistem ekonomi liberal atau sistem dimana setiap orang betul-betul bebas untuk melakukan kegiatan ekonomi apa saja bisa mencapai kesejahteraan masyarakat secara otomatis.
Sistem ekonomi liberal, dimana campur tangan pemerintah dalam kegiatan ekonomi sangat kecil (dapat dianggap tidak ada), menurut mazhab Klasik dapat menjamin tercapainya:
1. Tingkat kegiatan ekonomi nasional optimal (full employment level of activity).
2. Alokasi sumberdaya, baik sumberdaya alam maupun factor-faktor produksi lainnya didalam berbagai kegiatan ekonomi, secara efisien.
Dengan demikian perana pemerintah harus dibatasi seminimal mungkin, karena apa yang bisa dikerjakan oleh pemerintah bisa dikerjakan oleh swasta dengan lebih efisien. Pemerintah diharapkan hanya mengerjakan yang betul-betul tidak dapat dilakukan swasta secara efisien, seperti di bidang pertanahan, hokum, kepamongprajaan dan sebagainya.
Esensi teori ekonomi makro Klasik adalah bahwa: suatu perekonomian liberal (laissez faire) mempunyai kemampuan untuk menghasilkan tingkat kegiatan GDP= Gross Domestic Product) yang full employment secara otomatis, yang juga dikenal sebagai selfregulating (mengatur sendiri secara otomatis). Pada suatu waktu tertentu GDP mungkin saja berada di bawah atau di atas tingkat full employment, tetapi akan segera kembali ke tingkat full employment tersebut selalu dicapai? Kaum Klasik mengatakan bahwa yang mengatur adalah “tangan pengendali yang tidak kentara” atau “tangan gaib” (the invisible hand).
Aliran klasik muncul pada akhir abad ke 18 dan permukaan abad ke 19 yaitu di masa revolusi industri dimana suasana waktu itu merupakan awal bagi adanya perkembangan ekonomi.Pada waktu itu sistem liberal sedang merajalela dan menurut aliran klasik, ekonomi liberal itu disebabkan oleh adanya pacuan antara kemajuan teknologi dan perkembangan jumlah penduduk. Mula-mula kemajuan teknologi lebih cepat dari pertambahan jumlah penduduk, tetapi akhirnya terjadi sebaliknya dan perekonomian akan mengalami kemacetan.
Kemajuan teknologi mula-mula disebabkan oleh adanya akumulasi kapital atau dengan kata lain kemajuan teknologi tergantung pada pertumbuhan kapital. Kecepatan pertumbuhan kapital tergantung pada tinggi rendahnya tingkat keuntungan, sedangkan tingkat keuntungan ini akan menurun setelah berlakunya hukum tambahan hasil yang semakin berkurang (low of diminishing returus) karena sumber daya alam itu terbatas.
Teori-teori perkembangan dari beberapa pengamat aliran klasik, diantaranya adalah :
1. Francois Quesnay
2. John Locke
3. Adam Smith
4. David Ricardo
5. Thomas Robert Malthus
6. John Stuart Mill
7. David Hume
8. Teori Karl Max
Berikut penjabaran dari daftar beberapa pengamat aliran klasik tersebut:
1. Francois Quesnay (1694-1774)
Francois Quesnay (diucapkan Kennay) terkenal sebagai pencipta model ekonomi pertama, Tableau Economique, dan sebagai pemimpin physiocrats.Para pengikutnya menamakan diri mereka sebagai physiocratdari bahasa Perancis, physiocrate, yang berarti hukum alam (Rule of Nature).Physiocrat ialah kelompok ekonom yang percaya kalau kemakmuran suatu negara hanya bisa dicapai melalui agrikultur.
Francois Quesnay (diucapkan Kennay) terkenal sebagai pencipta model ekonomi pertama, Tableau Economique, dan sebagai pemimpin physiocrats.Para pengikutnya menamakan diri mereka sebagai physiocrat dari bahasa Perancis, physiocrate, yang berarti hukum alam (Ruledari bahasa Perancis, physiocrate, yang berarti hukum alam (Rule of Nature).Physiocrat ialah kelompok ekonom yang percaya kalau kemakmuran suatu negara hanya bisa dicapai melalui agrikultur.
Quesnay memulai pendapatnya dengan asumsi bahwa ekonomi dapat digambarkan menurut tiga kelas atau sektor yang berbeda.Pertama, sektor pertanian yang menghasilkan makanan, bahan mentah dan hasil pertanian lainnya.Kedua, sektor manufaktur yang memproduksi barang-barang pabrik seperti pakaian dan bangunan serta alat-alat yang diperlukan oleh pertanian dan pekerja pabrik, beserta jasa.Ketiga, kelas pemilik tanah yang tidak menghasilkan nilai ekonomi apa-apa, tetapi mereka memiliki klaim atas surplus output yang dihasilkan dalam pertanian.Biaya sewa ini merepresantasikan pembayaran surplus kepada pemilik tanah dan perdagangan ini kemudian dikenal sebagai Teori Sewa Physiocratic.
2. John Locke (1632-1704)
Sumbangan John Locke untuk ekonomi adalah memberikan justifikasi pertama untuk kepemilikan pribadi dan untuk pembatasan keterlibatan pemerintah dalam kegiatan perekonomian.Locke juga memberi sumbangan pada teori uang dan tingkat suku bunga.
Sumbangan mengenai filosofinya yaitu, mengemukakan proporsi yang agak kontroversial bahwa manusia mempunyai hak atas pekerjaan mereka dan atas hasil dari pekerjaannya itu, mereka menerima tanah sebagai milik mereka secara sah dengan memadukan pekerjaan mereka dengan tanah tersebut.
Uang atau modal diakui oleh Locke benar-benar merupakan hasil dari kerja sebelumnya.Jadi, kepemilikan uang dapat dibenarkan karena orang-orang harus bekerja untuk mendapatkannya.Uang juga membuat manusia dapat mengumpulkan kekayaan lebih banyak lagi karena uang tidak rusak sebelum dikonsumsi. Selain itu, Locke berpendapat bahwa properti pribadi memiliki nilai praktis karena ketika manusia diizinkan mengumpulkan kekayaan maka mereka akan lebih produktif.
Locke menolak pedapat dari Josiah Child (Pertengahan abad ke-17) yang berpendapat bahwa seharusnya negara membatasi tingkat suku bunga sampai 4%.Ia juga berpendapat bahwa hukum riba (Usury Law) hanyalah redistribusi dari keuntungan antara pedagang dan pemberi pinjaman, mereka tidak menguntungkan negara secara keseluruhan karena bunga tersebut tidak meningkatkan peminjaman dan investasi. Locke menyimpulkan bahwa lebih baik bunga dibiarkan sampai ke tingkat yang wajar (yang ditentukan oleh hukum permintaan dan penawaran) ketimbang diterapkan oleh pemerintah.
Sumbangan yang kedua adalah bahwa Locke menolak usulan dari pemerintah Inggris untuk pemecahan masalah uang logam yang terpotong atau terdepresiasi dengan mengurangi berat dari logam mulia dalam semua uang logam, atau mendevaluasi mata uang nasional. Menurut Locke, dengan mengurangi berat kandungan logam mulia, tidak akan membantu karena nilai atau kekuatan pembayar dari uang ini ditentukan oleh kandungan peraknya. Menurunkan nilai uang hanya akan membuat pedagang menginginkan lebih banyak mata uang untuk ditukar dengan barang.
3. Adam Smith(1723-1790)
Menurut Adam Smith, untuk berlakunya perkembangan ekonomi diperlukan adanya spesialisasi atau pembagian kerja agar produktivitas tenaga kerja bertambah. Pembagian kerja harus ada akumulasi kapital terlebih dahulu dan akumulasi kapital ini berasal dari dana tabungan, juga menitik beratkan pada Luas Pasar.
Pasar harus seluas mungkin agar dapat menampung hasil produksi, sehingga perdagangan internasional menarik perhatian.Karena hubungan perdagangan internasional itu menambah luasnya pasar, jadi pasar terdiri pasar luar negeri dan pasar dalam negeri.
Sekali pertumbuhan itu mulai maka ia akan bersifat kumulatif artinya bila ada pasar yang dan ada akumulasi kapital, pembagian kerja akan terjadi dan akan menaikkan tingkat produktivitas tenaga kerja.
4. David Ricardo (1772-1823)
David Ricardo mengatakan bahwa bila jumlah penduduk bertambah terus dan akumulasi kapital terus menerus terjadi, maka tanah yang subur menjadi kurang jumlahnya atau semakin langka adanya. David Ricardo sependapat dengan Smith bahwa labor memegang peran penting dalam perekonomian yang kemudian dikembangkan menjadi teori harga relatif berdasarkan biaya produksi yaitu biaya labor memegang peran penting dalam perekonomian-perekonomian yang kemudian dikembangkan menjadi teori harga relatif berdasarkan biaya produksi yaitu biaya kapital.
Menurut David Ricardo di dalam masyarakat ekonomi ada tiga golongan masyarakat, yaitu:
a. Golongan Kapital
Adalah golongan yang memimpin produksi dan memegang peranan yang penting karena mereka selalu mencari keuntungan dan menginvestasikan kembali pendapatannya dalam bentuk akumulasi kapital yang mengakibatkan naiknya pendapatan nasional.
b. Golongan Buruh
Golongan buruh ini tergantung pada golongan kapital dan merupakan golongan yang terbesar dalam masyarakat.
c. Golongan tuan tanah
Mereka hanya memikirkan sewa saja dari golongan kapital atas areal tanah yang disewakan.
5. Thomas Robert Malthus (1766-1834)
Menurut Thomas Robert Malthus kenaikan jumlah penduduk yang terus menerus merupakan unsur yang perlu untuk adanya tambahan permintaan, tetapi kenaikan jumlah penduduk saja tampa dibarengi dengan kemajuan faktor-faktor atau unsur-unsur perkembangan yang lain sudah tentu tidak akan menaikan pendapatan dan tidak akan menaikan permintaan. Turunnya biaya produksi akan memperbesar keuntungan-keuntungan para kapitalis dan mendorong mereka untuk terus berproduksi.
Menurut Thomas Robert Malthus untuk adanya perkembangan ekonomi diperlukan adanya kenaikan jumlah kapital untuk investasi yang terus menerus, sedangkan menurut J.B.Say berkembang dengan hukum pasar, dimana dikatakan bahwa Supply Creates its own demand yang artinya asal jumlah produksi bertambah maka secara otomatis permintaan akan ikut bertambah pula karena pada hakekatnya kebutuhan manusia tidak terbatas.
6. John Stuart Mill (1806-1873)
John Stuart Mill merupakan salah satu tokoh Utilitarianisme yang terkenal dalam menelurkan konsep kebebasan, yang dituangkan secara komprehensif di dalam bukunya On Liberty.
Bukunya yang berkaitan dengan ekonomi, Principles of Political Economy pada tahun 1848 berupaya untuk memahami masalah ekonomi sebagai suatu masalah sosial. Masalah tentang bagaimana manusia hidup dan ikut ambil bagian dalam kemakmuran bangsanya, baik dalam proses produksi, perlindungan terhadap produk dalam negeri dan perpesaing antar produk, maupun masalah distribusi melalui instrument uang dan kredit (mikhael dua,2008).
Dalam hal pemikirannya mengenai ekonomi, Mill dipengaruhi oleh Thomas Robert Malthus, dimana pertumbuhan ekonomi selalu diliputi dengan tekanan jumlah penduduk dengan sumber yang tetap.Universalime etis merupakan konsep utilitariannya yang lebih mengedepankan kepada kebahagiaan orang lain, dimana disanalah moralitas utilitarian dibangun oleh Mill. Prinsip tersebut memang cukup relevan dalam hal aktifitas ekonomi, disamping Mill menerima pasar bebas Adam Smith, namun usaha untuk memperhatikan kebahagiaan orang lain dalam hal persaingan ekonomi pasar, menjadi agenda Mill. Kondisi pasar bebas yang cenderung bersikap egoisme sentris, berusaha ditekan Mill dengan pemberlakuan nilai moralitas bersama, dimana prinsip kebahagiaan harus dirasakan oleh setiap pemain pasar, pelaku usaha, produsen, distribusi, hingga tataran konsumen. Pasar bebas memang cenderung melahirkan kondisi menang-kalah, namun diantara dua belah pihak diharapkan harus tetap mampu menjalin hubungan yang kelak melahirkan kebahagiaan bersama, yang merupakan konsekuensi atas universalisme etis ala John Stuart Mill.
7. David Hume ( 1711-1776)
Sebagai seorang ahli ekonomi Hume menyumbang teori uang dan teori perdagangan nasional.Ia menganalisis dampak uang terhadap tingkat suku bunga, kegiatan ekonomi, dan harga. Ia juga menjelaskan bagaimana dan mengapa negara-negara tidak mungkin mengalami ketidakseimbangan perdagangan dalam jangka waktu yang lama.
8. TEORI KARL MARX (Pertumbuhan dan kehancuran)
Sejarah Perkembangan Masyarakat
Karl Marx Mengemukakan teorinya berdasarkan atas sejarah perkembangan masyarakat dimana perkembangan itu melalui lima tahap.
1. Masyarakat komunal primitive (Primitive Conmund)Dalam tahap ini masyarakat menggunakan alat-alat untuk bekerja yang sifatnya masih sangat sederhana. Alat-alat ini bukan milik perseorangan tetapi milik komunal (milik bersama). Dalam masyarakat ini tidak ada surplus produksi di atas konsumsi karena orang yang membuat sendiri barang-barang atas kebutuhan sendiri, tetapi makin lama orang sedikit demi sedikit mengetahui alat-alat produksi yang lebih baik. Perbaikan dalam alat-alat produksi menyebabkan adanya perubahan-perubahan sosial dan kemudian terjadi pembagian kerja dalam produksi.
2. Masyarakat Perbudakan
Hubungan produksi antara orang-orang yang memiliki alat-alat produksi dengan orang-orang yang hanya bekerja untuk mereka merupakan dasar terbentuknya masyarakat perbudakan. Dengan cara seperti ini keuntungan para pemilik alat produksi semakin besar karena budak-budak hanya diberi sekedar nafka supaya dapat bekerja.
3. Masyarakat Feodal
Masyarakat feodal ini merupakan masyarakat baru yaitu dimana kaum bangsawan memiliki alat-alat produksi yang paling utama yaitu tanah dan para petani kebanyakan terdiri dari bekas budak yang dibebaskan.Mereka mengerjakan tanah itu untuk kaum feodal dan setelah itu baru tanah miliknya sendiri dapat dikerjakan. Perbaikan-perbaikan alat dan cara produksi banyak terjadi dalam system ini dengan demikian ada dua golongan kelas, yaitu :
a. Kelas Feodal yang terdiri dari tuan-tuan tanah yang lebih berkuasa dalam hubungan sosial.
b. Kelas buruh yang bertugas melayani mereka.
Kepentingan kedua kelas ini berbeda-beda.Kelas feodal lebih memikirkan keuntungan saja dan kemudian mendirikan pabrik-pabrik.Kelas buruh yang memiliki alat-alat produksi menghendaki pasaran buruh yang bebas, dan dihapuskannya tarif dan rintangan lainnya dalam perdagangan yang diciptakan kaum feodal.
4. Masyarakat Kapitalis
Kelas kapitalis memperkerjakan kelas buruh yang mau tidak mau menjual tenaganya karena tidak memiliki alat produksi seperti telah disinggung bahwa kelas kapitalis dan kelas buruh merupakan dua kelas dalam masyarakat yang kepentingannya saling bertentangan.
5. Masyarakat Sosial
Dalam system sosialis, pemilikan alat-alat produksi didasarkan atas hak milik sosial (Social ownership).Hubungan produksi merupakan hubungan kerjasama dan saling membantu di antara buruh yang bebas dari unsur eksploitasi.Sistem ini memberi kesempatan kepada manusia untuk maju baik dilapangan produksi maupun didalam kehidupan masyarakat.
2.2 Ruang lingkup Ekonomi Klasik
A. Ekonomi Klasik dalam pasar barang
Menurut kaum klasik, di pasar barang tidak mungkin akan kekurangan produksi atau kelebihan produksi dalam jangka waktu lama, sehingga selalu terjadi pasar bersih (clearing market) atau pasar dalam kondisi keseimbangan atau ekuilibrium. Jika pada suatu waktu terjadi kelebihan atau kekurangan produksi, maka mekanisme pasar akan secara otomatis mendorong kembali perekonomian tersebut pada kondisi dimana tingkat produksi total masyarakat (penawaran agregat) akan memenuhi permintaan total masyarakat secara tepat (full employment level of activity). Pendapat ini dilandasi adanya kepercayaan di kalangan kaum klasik bahwa di dunia nyata ini:
- Berlaku hukum Say (Say’s Law) yang mengatakan bahwa “setiap barang yang diproduksikan selalu ada yang membutuhkannya” (supply creates its own demand), dan
- Harga-harga dari hampir semua barang-barang dan jasa-jasa adalah fleksibel, yaitu dapat dengan mudah berubah (naik atau turun) sesuai dengan daya tarik-menarik antara permintaan dan penawaran.
- Ditinjau dari segi kebijakan ekonomi, berarti pemerintah tidak perlu melakukan campur tangan atau intervensi apapun. Kalau terjadi resesi atau depresi (GDP menurun dan terjadi pengangguran) kita cukup menunggu saja sampai perekonomian tersebut melakukan proses penyesuaian, dan keadaan keseimbangan pasti akan kembali terjadi.
B. Ekonomi Klasik dalam pasar uang
Kaum klasik memiliki teori permintaan akan uang yang cukup terkenal, yaitu teori kuantitas. Teori kuantitas mengatakan bahwa masyarakat memerlukan uang tunai untuk keperluan transaksi tukar menukar (misal: jual beli barang dan jasa), bukan untuk tujuan lain. Menurut kaum klasik karena uang tidak bisa menghasilkan apa-apa kecuali hanya untuk mempermudah transaksi, maka uang yang diminta oleh masyarakat hanya sebanyak jumlah yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk membiayai proses transaksi mereka. Jadi, semakin banyak transaksi yang dilakukan oleh masyarakat, semakin banyak pula uang tunai yang dibutuhkan oleh masyarakat tersebut.
Volume transaksi di dalam masyarakat tergantung pada dua hal, yaitu:
1) Volume barang/jasa yang diproduksi masyarakat (yang diukur dengan GDP riel atau GDP pada harga konstan), dan
2) Tingkat harga umum. Semakin besar GDP diharapkan semakin banyak transaksi yang dilakukan oleh masyarakat dan semakin tinggi harga umum semakin banyak uang tunai yang dibutuhkan untuk menutup setiap transaksi.
Jadi, penawaran uang (MS) ditentukan oleh kebijakan moneter. Oleh karenanya, variabel ini disebut variabel eksogen, yaitu variabel yang nilainya ditentukan oleh unsur di luar sistem persamaan. Permintaan uang, MD = k PQ, dimana k = suatu konstanta; Q = GDP riel; P = harga umum.
Dalam jangka pendek k tidak berubah. Q atau GDP riel ditentukan di pasar barang, dan tingkat Q yang normal adalah Q pada tingkat full employment. Dengan demikian Q ditentukan diluar pasar uang, sehingga dapat dianggap sesuatu yang mendekati suatu konstanta (ditentukan sebelumnya). Ini berarti bahwa penawaran uang tidak mempengaruhi tingkat output nasional. Mekanisme pasar akan menyamakan penawaran uang dengan permintaan uang, sehingga dapat ditulis dalam persamaan :
MS = MD = kPQ
Terdapat teori kuantitas yang menyatakan bahwa permintaan akan uang adalah proporsional dengan nilai transaksi yang dilakukan masyarakat. di pasar ini ditentukan tingkat harga umum: apabila jumlah uang yang beredar (penawaran akan uang) naik maka tingkat hargapun naik.
C. Ekonomi Klasik dalam pasar tenaga kerja
Kaum klasik menganggap bahwa di pasar tenaga kerja, seperti halnya di pasar barang, apabila harga tenaga kerja (upah) cukup fleksibel maka permintaan tenaga kerja selalu seimbang dengan penawaran tenaga kerja. Menurut definisi, tidak ada kemungkinan timbulnya pengangguran sukarela. Artinya pada tingkat upah riel yang berlaku di pasar tenaga kerja semua orang yang bersedia bekerja pada tingkat upah tersebut akan memperoleh pekerjaan.
Dengan demikian, mereka yang menganggur adalah mereka yang tidak bersedia bekerja pada tingkat upah yang berlaku. Jadi mereka ini adalah penganggur yang sukarela. Pengangguran sukarela itu berlangsung hanya sementara saja. Sejalan dengan proses penyesuaian dalam pasar barang, pada saat jumlah barang berada pada posisi keseimbangan, maka posisi full employment tercapai kembali. Pada keadaan demikian semua angkatan kerja dapat bekerja pada tingkat upah riel yang lama.
Dalam jangka pendek hanya ada pengangguran sukarela. Tetapi pengangguran inipun hanya bersifat sementara, karena apabila harga-harga turun (termasuk upah), maka konsumsi dan produksi akan kembali lagi ke tingkat semua (yaitu full employment).
2.3 Ekonomi Keynessian
A. Teori Ekonomi Keynessian
Aliran Keynesian yang dipelopori oleh John Maynard Keynes muncul untuk mengatasi krisis yang melanda Eropa pada 1930-an pasca perang Dunia I. Pada saat itu teori klasik dan neoklasik sudah tidak mampu lagi menjelaskan fenomena yang terjadi dan mengatasi krisis yang dihadapi. Bukunya “The General Theory of Employment, Interest and Money” merekomendasikan agar perekonomian tidak begitu saja diserahkan kepada mekanisme pasar, namun diperlukan peran pemerintah dalam sistem perekonomian, yang justru dalam teori klasik dan neoklasik peran pemerintah diharamkan.
B. Dasar Filsafat Teori Keynes
Inti dari ideologi Keynesianisme adalah untuk mengatasi masalah krisis ekonomi, pemerintah harus melakukan lebih banyak campur tangan secara aktif dalam mengendalikan perekonomian nasional. Kegiatan produksi dan pemilikan faktor-faktor produksi masih dapat dipercayakan kepada swasta, tetapi pemerintah wajib melakukan kebijakan-kebijakan untuk mempengaruhi perekonomian. Misalnya, dalam masa depresi pemerintah harus bersdia melakukan kegiatan-kegiatan yang langsung dapat menyerap tenaga kerja yang tidak dapat bekerja pada swasta, walaupun hal ini dapat menyebabkan defisit dalam anggaran belanja negara. Dalam hal ini Keynes tidak percaya pada sistem liberalisme yang mengkoreksi diri sendiri, untuk kembali pada posisi full employment secara otomatis. Full employment hanya dapat dicapai dengan tindakan-tindakan terencana, bukan datang dengan sendirinya.
C. Ruang lingkup Ekonomi Keynessian
1) Pasar Tenaga Kerja
Berbeda dengan teori klasik yang menganggap permintaan dan penawaran terhadap tenaga kerja selalu seimbang (equilibrium) karena harga-harga fleksibel, maka menurut Keynes pasar tenaga kerja jauh dari seimbang, karena upah tidak pernah fleksibel, sehingga permintaan dan penawaran hampir tidak pernah seimbang sehingga pengangguran sering terjadi. Menurut Keynesian pengangguran bisa terjadi terus menerus dan jenis pengangguran tersebut ada tiga macam:
a. Pengangguran pergeseran (frictional) adalah pengangguran yang disebabkan karena adanya perubahan struktur dalam ekonomi dan orang-orang berpindah dari satu pekejaan ke pekerjaan lain. Masa transisi perpindahan pekerjaan ini menyebabkan timbulnya pengangguran sementara. Misalnya ada suatu industri yang tutup karena tidak efisien lagi untuk diteruskan sehingga orang-orang harus mencari pekerjaan baru. Proses mencari pekerjaan baru memerlukan waktu dan bahkan adakalanya pekerja tersebut harus dilatih kembali untuk memsuki lapangan pekerjaan baru. Contoh lain adalah adanya perpindahan dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain dan sementara perkerjaan baru belum dapat maka status pencari kerja tersebut adalah pengangguran.
b. Pengangguran musiman disebabkan karena adanya faktor musim dari suatu jenis pekerjaan. Misalnya di sektor pertanian ada musim puncak dimana banyak perkerjaan dan ada pula musim senggang atau tidak ada pekerjaan sama sekali sehingga petani menjadi menganggur dan mencari pekerjaan lain.
c. Pengangguran institusinal adalah pengangguran yang timbul akibat adanya kebijakasanaan pemerintah seperti upah minimum yang menyebabkan permintaan terhadap tanaga kerja berkurang. Sementara itu penawaran kerja dari pencari kerja cukup banyak sehinga timbul pengangguran.
Timbulnya ketiga jenis penganguran tersebut diatas disebabkan oleh karena tidak fleksibelnya harga-harga, termasuk harga tenaga kerja (upah) dan lambatnya reaksi rasional dari para pelaku ekonomi sehingga tidak terjadi full employment. Tidak full employment berarti akan ada orang yang tidak mendapatkan pekerjaan.
Teori pasar tenaga kerja Keynesian ini cukup relevan dalam konteks pasar tenaga kerja Indonesia. Harga-harga barang dan upah buruh tidak fleksibel kebawah, bahkan harga bisa naik tanpa sebab yang jelas dan kalau sudah naik tidak bisa turun. Upah buruh minimum diduga juga ikut berperan dalam mempertahankan harga yang tinggi sehinga permintaan terhadap tenaga kerja tidak naik dan menambah pengangguran, walaupun faktor sempitnya lapangan kerja merupakan faktor terpenting yang menyebabkan jumlah pengangguran yang besar saat ini. Karena terbatasnya permintaan tenaga kerja akibat sektor produksi tidak tumbuh tinggi maka banyak tenaga kerja Indonesia yang menawarkan tenaganya keluar negeri seperti Malaysia.
Pelaku ekonomi juga sangat lambat dalam merespon perubahan ekonomi yang terjadi. Hal ini karena informasi yang terbatas dan asimetris. Misalnya petani di desa tidak tahu bahwa harga input atau produksi pertanian telah berobah. Ketidaktahuan ini biasanya menjadikan posisi petani sangat lemah dibandingkan dengan pedagang dan pengusaha besar lainnya.
2) Pasar Barang
Perbedaan pasar barang menurut Keynesian dengan klasik terletak pada Hukum Say bahwa permintaan sama dengan penawaran sehingga tidak akan terjadi kelebihan atau kekurangan permintan atau penawaran. Menurut Keynesian permintaan barang tidak selalu sama dengan penawaran karena tidak semua income dibelanjakan tetapi sebagian dari pendapatan tersebut akan disimpan dalam bentuk tabungan (saving). Tabungan tidak menambah permintaan efektif terhadap barang dan jasa kalau tidak segera diinvestasikan sehingga akan terjadi kelebihan stok barang atau kelebihan produksi barang (penawaran). Apa akibat dari ketidakseimbangan permintaan dengan penawaran ini terhadap perekonomian negara? Ada dua akibat yang akan terjadi. Pertama, para produsen akan mengurangi jumlah produksi mereka pada tahun atau periode berkutnya, artinya output atau GDP akan berkurang pada tahun berikutnya. Bila output berkurang maka dampaknya akan sangat serius terhadap variabel makro karena income, lapangan pekerjaan, konsumsi, investasi dan seterusnya akan menurun. Kedua, akbat dari turunnya GDP dan income maka harga-harga akan turun karena turunnya permintaan akibat penurunan income. Apabila harga-harga (harga barang dan harga tenaga kerja) tidak kaku tetapi fleksibel dan turun sebanding dengan penuruan income, seperti yang diasumsikan oleh teori Klasik, maka keadaan down turn ini tidak akan berlangsung lama karena harga yang turun akan kembali mendorong naiknya permintaan (sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran). Naiknya permintaan akan mendorong produsen kembali menggenjot produksi mereka dan keadaan terpuruk akan segera terkoreksi kembali. Pabrik dan industri tidak akan tutup sehingga para buruh tidak banyak yang kena PHK. Berbeda dengan teori Klasik yang mengasumsikan harga-harga adalah fleksible, kenyataannya menurut Keynes, harga-harga adalah tidak fleksible tetapi kaku (rigid), tidak mau turun. Akibatnya permintaan akan turun dan produksi tidak akan naik sehingga ekonomi akan terjebak pada resesi atau depresi.
Keadaan sebaliknya bisa juga terjadi yaitu terjadinya kelebihan permintaan dan kekurangan produksi. Misalnya produsen membuat perhitungan yang optimis dengan menambah investasi sehingga permintaan aggregate naik (ingat investasi adalah komponen Aggregate Demand). Bila kapasitas terpasang pabrik sudah penuh maka tidak akan terjadi peningkatan produksi sehingga produksi berkurang dan sementara permintaan naik. Kenaikan permintaan dan kekurangan produksi ini akan ditransmisikan kedalam inflasi.
3) Pasar Uang
Perbedaan teori Klasik dan Keynesian dalam hal uang adalah, dan ini yang merupakan perbedaan besar, Keynesian tidak setuju dengan pendapat bahwa permintaan uang hanya ditentukan oleh kebutuhan transaksi dimana transaksi ini dipengaruhi oleh volume barang, harga barang dan kecepatan perputaran uang. Menurut Keynesian permintaan uang ditentukan oleh tiga faktor yaitu:
a. Kebutuhan transaksi (transaction motive)
b. Kebutuhan untuk berjaga-jaga (precautionary motive), dan
c. Kebutuhan untuk berspekulasi (speculation motive) atau investasi.
Untuk kebutuhan transaksi sama dengan pendapat klasik dimana tergantung dengan volume barang, harga dan konstanta. Tetapi untuk dua faktor lagi Keynesian berpendapat bahwa permintaan akan uang juga ditentukan oleh faktor berjaga-jaga dan spekulasi.
Kebutuhan berjaga-jaga adalah suatu kebutuhan untuk mengahadapi situasi yang tidak normal atau darurat, misalnya sakit, kecelakaan atau ada kebutuhan mendadak yang memerlukan uang yang tidak terduga sebelumnya. Jumah kebutuhan untuk jenis ini sama dengan kebutuhan transaksi, yakni tergantung dengan income. Bila dilihat secara prinsip maka kebutuhan jenis ini juga hampir sama dengan kebutuhan transaksi.
Faktor ketiga yang menentukan permintaaan uang adalah spekulasi, berbeda secara significant dengan teori klasik. Kebutuhan spekulasi adalah kebutuhan untuk mencari keuntungan dari permaian resiko dan keberuntungan. Sama seperti teori klasik, menurut Keynes uang tidak memberikan penghasilan apa-apa, misalnya dalam bentuk bunga, sehingga rugi kalau disimpan dalam jumlah yang terlalu banyak. Pada waktu teori ini dicetuskan oleh Keynes uang memang tidak memberikan keuntungan apa-apa kecuali untuk mempermudah proses transaksi sehari-hari. Sebagai alternatif dari memegang uang adalah membeli aset lain seperti obligasi (bonds) yang dikeluarkan pemerintah, karena obligasi memberikan pendapatan berupa bunga. Dalam perkembangannya sekarang uang telah bisa memberikan keuntungan dalam bentuk bunga bila disimpan di bank, walaupun tidak diinvestasikan ke usaha-usaha produktif tetapi bunganya sangat rendah diandingkan dengan deposito atau investasi lainnya. Kalau uang disimpan di rumah maka tetap tidak akan memberikan keuntungan sedikitpun. Tingkat keuntungan yang diperoleh dengan menabung di bank memang relatif rendah dibandingkan dengan investasi atau usaha produktif lainnya tetapi resiko menabung di bank juga rendah. Disamping itu alternatif terhadap memegang uang sekarang bukan hanya obligasi tetapi sudah terdapat berbagai jenis surat berharga yang dapat memberikan bunga yang sangat kompetitif dibandingkan dengan bunga simpanan bank.
Faktor kebutuhan uang untuk spekulasi merupakan perbedaan penting antara teori pasar uang klasik dan Keynesian. Menurut teori Keynesian disamping untuk transaksi, uang diperlukan juga untuk berjaga-jaga (berjaga-jaga hampir sama denga transaksi menurut versi teori klasik) dan untuk berspekulasi. Dikatakan spekulasi karena ada tarik menarik antara keperluan memegang uang dan memegang (membeli) aset yang lain selain uang sebagai ganti memegang uang dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan. Aset lain yang dimaksud disini adalah aset finansial seperti obligasi atau surat-surat berharga lainnya. Sekarang ini kegiatan spekulasi ini dilakukan di pasar uang dan pasar modal (bursa) seperti di Indonesia Stock Exchange.
D. Variabel-variabel Ekonomi dan Koefisien Multiplier
A. Variabel Fungsi Konsumsi ( C )
Adalah suatu fungsi yang menunjukkan hubungan antara variabel pendapatan nasional ( Y ) dengan variabel konsumsi ( C ). Fungsi konsumsi menurut JM Keynes dirumuskan sebagai:
C = Co + Cy
Karakteristik Fungsi Konsumsi Keynes adalah :
1) Besarnya pengeluaran konsumsi ( C ) dipengaruhi secara positif dan searah oleh besarnya pendapatan
2) Merupakan fungsi konsumsi jangka pendek, ditunjukkan adanya konsumsi otonom ( Co ) yaitu:
• Pengeluaran konsumsi pada saat pendapatan sama dengan nol (0 )
• Pengeluaran konsumsi yang tidak dipengaruhi oleh pendapatan
3) c = Marginal Propensity to Consume ( MPC ) yaitu besarnya kecenderungan perubahan konsumsi ketika pendapatan berubah ( D C / DY ). 0 < c < 1, atau MPC positif tapi kurang dari 1. (Ini berdasarkan Fundamental Psychological Law). Dimana c merupakan slope kurva konsumsi.
4) Y adalah pendapatan yang siap dibelanjakan atau disebut disposible income yaitu Y d = Y – tax + subsidi
5) Average Propensity to Consume atau kecenderungan rata – rata untuk berkonsumsi .
APC = C / Y = Co + cY = c + Co / cY
• Besarnya APC tidak konstan, tetapi membesar dengan semakin besarnya C
• Dalam jangka pendek APC > MPC
• APC ( pada satu tingkat pendapatan ) adalah slope garis yang dibuat dari titik origin ke suatu titik pada kurva konsumsi ( pada tingkat pendapatan tertentu
6) Fungsi konsumsi jangka panjang Keynes mempunyai sifat – sifat sebagai berikut:
• Fungsinya C = kY
• MPC = APC
• MPC jangka panjang > MPC jangka pendek
• Tidak ada autonomous consumption, karena dalam jangka panjang apabila tidak ada pendapatan maka tidak bisa berkonsumsi.
Hubungan Konsumsi Jangka Panjang dan Pendek
Dalam jangka panjang , pola konsumsi menurut Keynes akan membentuk suatu pola tertentu dengan berbagai model. Model – model tersebut dikembangkan oleh pengikut – pengikut Keynes. Terdapat tiga model hubungan konsumsi jangka panjang dan jangka pendek yang perlu dibahas di sini, yaitu :
1) Permanent Income Hypothesis,
menurut Milton Friedman, pendapatan permanen terdiri dari pendapatan periode lalu ditambah dengan windfall income yang diyakini menjadi bagian dari pendapatan permanen. Keyakinan itu diwujudkan dalam koefisien adaptasi yang dinotasikan dengan g. Dalam jangka pendek g terletak antara 0 dan satu. Semakin mendekati 0 artinya konsumen semakin pesimis bahwa windfall income akan menjadi pendapatan permanen, sementara semakin mendekati 1 artinya konsumen semakin optimis. Dalam jangka panjang besarnya g adalah 1, artinya seluruh windfall akan menjadi pendapatan permanen.
C = k ( 1 – g ) Yt-1 + kg Yt
2) Relative Income Hypothesis,
menurut Duessenbery jika pendapatan berubah maka pola konsumsi juga akan berubah mengikuti jalur perubahan yang ratchet, karena pola – pola perubahan konsumsi tersebut melalui tahap - tahap penyesuaian. Dalam jangka pendek karena konsumen belum bisa menyesuaikan pola konsumsi dengan pendapatan yang baru, maka konsumen tetap mendasarkan pola konsumsinya pada pendapatan yang lama, baru dalam jangka panjang pola konsumsi akan mengikuti pada pendapatan yang baru. Sulitnya penyesuaian terhadap pendapatan yang baru adalah karena psychological shock pada kasus pendapatan turun. Secara grafis, model konsumsi Relative income ini bisa digambarkan sebagai berikut :
3) Life Cycle Hypothesis, menurut Ando Modigliani apabila pola konsumsi sepenuhnya mengikuti naik turunnya pendapatan banyak konsumen yang tidak kuat karena adanya cultural lag dan psychological shock. Untuk itu banyak konsumen mengatasinya dengan cara merencanakan pengeluaran seumur hidupnya agar tetap sama dan merata, tidak mengikuti naik turunnya pendapatan.
Asumsi yang digunakan dalam teori ini adalah :
• Umur manusia bisa diperkirakan, misalnya selama D tahun
• Umur produktif manusia juga bisa diperkirakan misalnya selama R tahun
• Besarnya pendapatan per periode umur juga bisa diperkirakan misalnya Y rupiah
• Selain pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan juga terdapat kekayaan lain misalnya warisan, hadiah atau hibah.
Dari keempat asumsi tersebut maka kita bisa membuat rumus sebagai berikut :
C = W + R Y = W + R Y
D D D
B. Variabel Fungsi Tabungan ( S )
Tabungan merupakan fungsi pendapatan S = s Y. Besar kecilnya tabungan dipengaruhi secara positif oleh besar kecilnya pendapatan nasional. Di mana tabungan adalah sisa pendapatan setelah digunakan untuk konsumsi atau dapat ditulis sebagai S = Y – C . Hal ini mengandung arti bahwa besarnya tabungan baru diketahui setelah besarnya konsumsi diketahui.
C. Koefisien Multiplier
Multiplier atau angka pengganda adalah hubungan kausal antara variabel tertentu dengan variabel pendapatan nasional. Jika angka pengganda tersebut mempunyai angka yang tinggi, maka perubahan yang terjadi pada variabel tersebut akan mempengaruhi terhadap tingkat pendapatan nasional juga besar dan sebalikanya. Perubahan pendapatan nasional itu ditunjukan oleh suatu angka pelipat yang disebut dengan koefisien multiplier.
Multiplier (Pengganda), Keynes mendefinisikan Multiplier sebagai “Rasio pasti antara pendapatan dan investasi serta, subyek penyederhanaan tertentu, antara jumlah pekerjaan dan tenaga kerja yang dipekerjakan pada investasi langsung…”. Angka pengganda menggambarkan perbandingan diantara jumlah pertambahan atau pengurangan dalam pendapatan nasional dengan jumlah pertambahan atau pengurangan dalam pengeluaran agregat yang telah menimbulkan perubahan dalam pendapatan nasional.
Multiplier adalah angka pengganda dari suatu variabel untuk menghasilkan besarnya perubahan variabel pendapatan nasional (permintaan agregat).
Suatu hal yang penting dan merupakan salah satu esensi dari teori Keynes adalah bahwa perubahan pengeluaran investasi akan akan menyebabkan perubahan tingkat pendapatan nasional yang jauh lebih besar daripada perubahan pengeluaran investasi tersebut. Jadi, kalau pengeluaran investasi berubah, dari I menjadi I + I, maka tingkat pendapatan akan berubah, dari Y menjadiY + Y, sedemikian rupa sehingga Y = k I, dan k adalah bilangan 1, maka oleh karena itu Y selalu lebih besar daripada I kecuali jika k=1 yang kemungkinan terjadinya adalah sangat kecil karena k 1, maka k disebut sebagai angka pengganda investasi atau multiplier investasi, artinya angka yang menunjukan kenaikan tingkat pendapatan nasional karena bertambahnya pengeluaran investasi. Dengan demikian multiplier investasi dapat dirumuskan sebagai : Ki = Y/I
Rumus multiplier investasi yang lebih lengkap dapat diperoleh cara sebagai berikut:
- Perekonomian 2 Sektor
• Pada perekonomian negara yang masih tertutup dan sederhana, komponen perekonomian terdiri atas dua sektor yaitu rumah tangga konsumen dan rumah tangga produsen dengan variabel – variabel yang digunakan konsumsi ( C ) dan tabungan ( S )
• Hubungan antar variabel
• C = f ( Yd ) Þ konsumsi merupakan fungsi dari pendapatan
0 < D C < 1
DY
• C = a + cYd
Yd = C + S
Yd = ( a + cYd ) + S
• S = Yd – ( a + cYd )
S = -a + (1 – c ) Yd
Di mana
• Yd = Pendapatan yang bisa langsung dibelanjakan
• C = Konsumsi
• S = Saving, tabungan
• a = konsumsi autonomos/ Co
• c = MPC
• Selain mpc kita juga mengenal adanya mps ( marginal propensity saving), yaitu seberapa besar perubahan tabungan dengan adanya perubahan pendapatan. Dari hubungan tabungan dan konsumsi, maka kita akan menemukan
Mpc+ Mps = 1.
• Pada titik pendapatan tertentu terdapat kondisi di mana semua pendapatan dihabiskan untuk konsumsi. Hal ini disebut dengan pendapatan break event point. Juga kondisi ketika pendapatan tidak bisa memenuhi kebutuhan konsumsinya, sehingga terjadi saving yang sifatnya negatif atau terjadi hutang.
• Secara grafis, hubungan pendapatan, tabungan dan konsumsi bisa digambarkan sebagai berikut :
Contoh
• Pada tingkat pendapatan sebesar 100 mrp pertahun, besar konsumsi 95 mrp
• Pada tingkat pendapatan nasional 120 mrp per tahun, besar konsumsi 110 mrp.
Dicari
a. Fungsi konsumsi dan tabungan
b. Titik Break even point
c. Pada tingkat pendapatan Rp 90 milyar berapa konsumsi dan tabungannya
Jawab
a. APC100 = C100 / Y100 = 95 / 100 = 0,95
APC120 = C120 / Y 120 = 110/120 = 0,9166
MPC = D C /D Y = ( 110 – 95 ) / ( 120 – 100 )
= 15 / 20 = 0,75
Maka dengan menggunakan rumus di atas bisa dicari
C = ( APCn – MPC ) Y + MPC. Y
= ( 0,95 – 0,75 ) . 100 + 0,75 Y
= 0,20 x 100 + 0,75 Y
= 20 + 0,75 Y
Tingkat Break even
Y = C Þ Y – C = 0
Y – ( 20 + 0,75 Y ) = 0
Y – 0,75 Y – 20 = 0
0,25 Y = 20
Y = 80 mrp
Artinya pada tingkat pendapatan sebesar Rp 80 milyar, seluruh pendapatan digunakan untuk berkonsumsi. Sebelum tingkat pendapatan sebesar Rp 80 milyar, kekurangan konsumsi akan ditutup dengan tabungan negatif (hutang).
• Fungsi Saving
• S = Y – C
• C = a + cY maka
• S = Y – ( a + cY )
= Y – a – cY = ( 1 – c ) Y – a
Dari soal di atas, fungsi savingnya adalah
S = ( 1 – c ) Y – a
S = ( 1 – 0,75 ) Y – 20
= ( 0,25 ) Y – 20
Pada tingkat pendapatan Rp 90 milyar, maka konsumsinya
C = 20 + 0,75 ( 90 )
= 87,5 milyar
S = 0,25 ( 90 ) – 20
= 2,5 milyar rupiah
• Beberapa faktor yg menentukan tk konsumsi & tabungan RT
• Kekayaan yg telah terkumpul
• Tingkat bunga
• Sikap berhemat
• Keadaan perekonomian
• Distribusi pendapatan
• Tersedia tidaknya dana pensiun yang mencukupi
- EKONOMI 2 SEKTOR YANG SUDAH MEMASUKKAN INVESTASI
• Investasi/ penanaman modal = Pengeluaran/ perbelanjaan investor atau perusahaan untuk membeli barang modal & perlengkapan produksi barang/ jasa yg tersedia dalam perekonomian
• Yang digolongkan sbg investasi
• Pembelian berbagai jenis barang modal (mesin – mesin) & peralatan produksi lain untuk mendirikan berbagai industri
• Perbelanjaan untuk membangun rumah, bangunan kantor/ pabrik dan lainnya
• Pertambahan nilai stock brg yg masih dlm proses produksi pd akhir tahun pnghitungan pendapatan nasional
• Penentu tingkat investasi
• Tigkat keuntungan yg diramalkan akan diperoleh (Keuntungan yang diperoleh perusahaan)
• Tingkat bunga
• Ramalan mengenai keadaan ekonomi di masa mendatang
• Kemajuan tehnologi
• Tingkat pendapatan nasional & perubahannya
• Tingkat pengembalian modal
• Untuk menghitung tk pengembalian modal dilakukan dengan menghitung nilai sekarang ( Present Value ).
• Dikatakan menguntungkan bila PV pendapatan di masa depan > investasi
• PV = Y1 + Y2 + Y3 + …… + Yn
(1+r) (1+r)2 (1+r)3 (1+r)n
r = tingkat bunga
Bila M = modal, maka investasi akan untung bila NS > M
• Efisiensi Modal Marginal
• Suatu kurva yang menunjukkan hubungan antara tingkat pengembalian investasi dengan jumlah modal yang diinvestasikan
• Kegiatan investasi akan dilakukan apabila tingkat pengembalian modal lebih besar atau sama dengan tingkat bunga
Ekonomi periode ke-0 ( pendapatannya ) digunakan pada periode ke-1. Periode ke 1 digunakan untuk periode ke2 dan seterusnya maka akan diperoleh :
Co + Io = Yo
Yo = C1 + S1
C1 + I1 = Y1
Y1 = C2 + S2 dan seterusnya
Y nasional equilibrium adalah tingkat pendapatan nasional di mana tidak ada kekuatan ekonomi yang mempunyai tendensi untuk mengubahnya. Yo = Y1 = Y2 dan seterusnya. Karena konsumsi tergantung Y maka Ceq saat Co = Y1 = Y2 dst
Demikian juga untuk saving. Maka kita bisa menyimpulkan bahwa S1 = I1
• Pada perekonomian dua sektor yang sudah memasukkan variabel investasi ini terdapat 2 cara untuk menghitung pendapatan nasional equilibrium
Cara I
Y = C + I
C = a + cY
Y = a + cY + I
Y – cY = a + I
( 1 – c ) Y = a + I
Y = ( a + I ) 1
c
= a + I
1 – c
Cara II
S = I
Y – C = I
Y – ( a + cY ) = I
Y – a – cY = I
Y – cY = a + I
( 1 – c ) Y = a + I
Y = 1 . ( a + I )
1 – c
Contoh :
Diketahui Fungsi konsumsi
C = 0,75 Y + 20 mrp
Investasi/ th I = 40 mrp
a. Hitung besar pendapatan nasional equilibrium
b. Hitung besar konsumsi equilibrium
c. Besar saving equilibrium
• Jawab
a. Y = 1 . ( 20 + 40 )
( 1 – 0,75 )
= 4 x 60 = 240 mrp
b. Ceq = a + cY
= 20 + 0,75 ( 240 )
= 200 mrp
S eq = -20 + 0,25 ( 240 )
= 40 mrp
BAB III
I. KESIMPULAN
Ekonomi klasik secara umum dianggap sebagai aliran modern pertama dalam sejarah pemikiran ekonomi. Pemikir dan pengembang utama aliran ini antara lain adalah Adam Smith, Jean-Baptiste Say, David Ricardo, Thomas Malthus dan John Stuart Mill.
The Wealth of Nations karya Adam Smith pada tahun 1776 dianggap sebagai penanda dimulainya era ekonomi klasik. Aliran ini mengemuka hingga pertengahan abad ke-19, dan kemudian digantikan oleh ekonomi neoklasik, yang lahir di Britania Raya pada tahun 1870. Definisi ekonomi klasik diperdebatkan oleh sejumlah pakar, terutama pada periode 1830–1870-an, dan keberlanjutannya ke ekonomi neoklasik. Istilah "ekonomi klasik" awalnya dicetuskan oleh Karl Marx untuk merujuk pada ekonomi Ricardian – aliran ekonomi yang dikembangkan oleh David Ricardo dan James Mill serta pendahulunya. Namun, penggunaan istilah ini kemudian diperluas untuk merujuk pada semua pengikut Ricardo.
Ekonomi klasik menyatakan bahwa pasar bebas akan mengatur dirinya sendiri jika tidak ada campur tangan dari pihak apapun. Adam Smith menyebutnya dengan metafora "tangan tak terlihat", yang akan menggerakkan pasar menuju keseimbangan alami mereka tanpa adanya campur tangan dari luar.
Tidak seperti ekonomi Keynesian, ekonomi klasik menekankan pada penerapan harga fleksibel, baik dari segi upah ataupun barang. Penekanan lainnya terdapat pada Hukum Say: penawaran menciptakan permintaan sendiri – artinya, produksi agregat akan menghasilkan pendapatan yang cukup untuk membiayai semua pengeluaran yang dihasilkan. Berbeda dengan Keynes, yang menyatakan bahwa harus ada penghematan, pengeluaran uang, atau pemakaian instrumen pembiayaan lainnya untuk membiayai pengeluaran dan menutupi biaya produksi. Postulat lainnya yang ditekankan oleh ekonomi klasik adalah keseimbangan antara tabungan dan investasi, dengan asumsi bahwa suku bunga fleksibel akan selalu menjaga ekuilibrium.
II. PENUTUP
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena pertolonganNya lah kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Namun demikian, kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari sisi substansi isi maupun tekhnis penulisan. Itu semua terpulang kepada kami dan secara akademik menjadi tanggung jawab kami pula. Untuk itu segala bentuk saran, masukan, koreksi, maupun kritik sangat kami nantikan dan harapkan untuk memperbaiki makalah ini. Akhirnya dengan penuh kerendahan hati, kami berharap makalah ini dapat menjadi sarana menambah ilmu dan semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR PUSTAKA
http://fitriskasim.blogspot.co.id/2013/06/teori-ekonomi-makro-klasik-mazhab-klasik.html
http://blogsiffahartas.blogspot.co.id/2011/05/teori-ekonomi-klasik.html
http://shevalina13.blogspot.co.id/2013/08/teori-ekonomi-klasik-vs-teori-ekonomi.html
http://informasimasalalu.blogspot.co.id/2014/02/teori-ekonomi-klasik-dan-keynes-di.html
http://shevalina13.blogspot.co.id/2013/08/teori-ekonomi-klasik-vs-teori-ekonomi.html
https://izzamafruhah.files.wordpress.com/2012/10/pengantar-ekonomi-makro-bab-iii.pdf
http://mita201311102.weblog.esaunggul.ac.id/sample-page/tugas-1-2/ekonomi-makro/
http://ratihseptiaryani.blogspot.co.id/2011/02/perumusan-multiplier-angka-pengganda.html
Langganan:
Postingan (Atom)